Pasang Iklan Gratis

Indonesia, Turki, dan masa depan diplomasi non-blok di abad ke-21

  Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Sugiono, menyampaikan kembali dukungan Indonesia kepada Turki sebagai mitra wicara (dialogue partner) Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) guna meningkatkan keterlibatan negara tersebut di kawasan Asia Tenggara.

"Kami menyambut aspirasi Turki menjadi mitra wicara penuh ASEAN, dan kami siap memberi dukungan penuh," kata Sugiono dalam pernyataan pers bersama usai acara Dialog 2+2 Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan (Menhan) Republik Indonesia-Turki, di Ankara, Turki

Menlu Sugiono menyebut bahwa dalam dialog 2+2 tersebut, delegasi Indonesia dan Turki saling bertukar pandangan dan informasi terbaru soal kawasan masing-masing serta posisi diplomasi nasional di forum internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan ASEAN.

Menyimpan niat panjang

Sekilas, dukungan Indonesia terhadap aspirasi Turki sebagai mitra wicara ASEAN terlihat sederhana. Sekadar pernyataan pers, sekadar kalimat diplomatik. Tapi, dalam urusan politik luar negeri, kalimat yang paling tenang sekali pun kerap menyimpan niat paling panjang.

Maka, dukungan ini bukan semata urusan Turki dan status kemitraannya di ASEAN. Ia juga mencerminkan cara Indonesia membaca dunia hari ini, yakni tidak ingin terseret ke persaingan kekuatan besar -- Amerika Serikat (AS) di satu sisi, China dan sekutunya di sisi lain -- namun juga tidak memilih menjauh dari keduanya. Dalam bahasa diplomasi, sikap inilah yang -- dahulu -- kerap disebut non-blok.

Dalam teori middle power diplomacy, Indonesia dan Turki memiliki satu kesamaan. Keduanya tidak cukup besar untuk mendikte dunia, tapi terlalu besar untuk diabaikan. Di posisi serba tanggung itulah kreativitas diplomasi kedua negara diuji.

Andrew Cooper, akademisi dari The Balsillie School of International Affairs and the Department of Political Science, yang banyak menulis soal diplomasi negara middle power, menyebut middle power cenderung bermain di celah, mengisi ruang yang tak dijaga negara besar. Saat ini, celah itu bernama Global South. Istilah ini, yang dulu terasa seperti jargon seminar, sekarang telah menjelma menjadi identitas politik yang makin percaya diri.

Indonesia dikenal sejak lama membawa semangat Bandung (Bandung spirit) dan Gerakan Non-Blok. Adapun Turki membawa pengalaman unik, yaitu sekutu Barat yang sering berdebat dengan Barat. Dua latar berbeda, tapi sama-sama paham rasanya berada di antara.

Non-blok hari ini jelas bukan berarti netral total. Dunia terlalu ribet untuk disikapi seperti itu. Yang perlu dijaga adalah fleksibilitas, agar pilihan-pilihan tetap tersedia saat dibutuhkan.

Evelyn Goh, profesor di Australian National University (ANU), Canberra, Australia, yang kerap membedah strategi negara-negara Asia di tengah persaingan raksasa dunia, menyebut strategi ini sebagai hedging. Artinya, tidak mengikatkan diri pada satu kekuatan saja, tapi tetap aktif menjaga hubungan ke berbagai arah.

Nah, Indonesia sudah lama mempraktikkan hedging itu. Ia berteman dengan AS, berdagang dengan China, bersuara di Global South. Turki kini mulai melakukan hal serupa, tapi dengan gaya yang lebih frontal.

Maka, dalam kerangka itulah, dukungan Indonesia terhadap Turki sebagai mitra wicara ASEAN bisa dibaca dan dipahami. Dengan demikian, ini bukan sekadar soal satu negara, melainkan tentang bagaimana Indonesia menjaga ruang geraknya di kawasan.

Turki memiliki latar belakang yang berbeda dari mitra ASEAN lainnya. Negara ini punya pengalaman berhubungan dengan Eropa, Timur Tengah, dan dunia Islam. Itu semua bisa memperkaya cara ASEAN dalam melihat dunia dewasa ini.

Sekaligus alternatif

Bagi Turki, Asia Tenggara adalah kawasan menjanjikan. Di sini ada pasar, ada mitra, ada peluang baru. Ketika satu pintu di Eropa macet, pintu lain tentu perlu dibuka.

Dan Indonesia pasti memahami hal tersebut. Diversifikasi bukan soal serakah, tapi soal bertahan. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, satu sandaran saja terlalu berisiko dan berbahaya.

Joseph Stiglitz, ekonom Amerika Serikat, peraih Hadiah Nobel Ekonomi tahun 2001, pernah mengingatkan bahwa sistem ekonomi global dirancang oleh dan untuk negara maju. Negara-negara berkembang sering kali hanya menjadi pemain figuran, sekadar patuh pada aturan main yang tidak mereka susun sendiri.

ASEAN, jika mau jujur, juga kerap berada di posisi seperti itu. Ia dihormati sebagai kawasan yang stabil, tapi jarang benar-benar didengar kala aturan global dirumuskan. Maka, membuka pintu bagi aktor seperti Turki -- yang punya pengalaman bernegosiasi keras dengan Barat sekaligus berjejaring kuat di dunia Islam -- bisa menjadi cara memperluas spektrum suara ASEAN di panggung global.

Bagi Indonesia, dukungan terhadap Turki sebagai mitra wicara ASEAN adalah bentuk diplomasi yang bersifat low cost tapi high impact. Tidak ada aliansi militer, tidak ada pakta pertahanan, hanya dukungan politik yang fleksibel. Namun dari situ, pesan besarnya jelas bahwa ASEAN tidak ingin dikurung dalam narasi Indo-Pasifik versi satu kekuatan saja.

Lebih jauh, langkah Indonesia ini juga memperlihatkan watak diplomasi Indonesia yang cenderung inklusif. Indonesia tidak merasa terancam dengan hadirnya aktor baru di sekitar ASEAN. Justru sebaliknya, semakin banyak mitra, semakin besar ruang tawar yang tersedia.

Tentu saja, status mitra wicara Turki di ASEAN bukan tiket otomatis menuju sebuah pengaruh besar. Banyak negara sudah lama menjadi mitra wicara ASEAN tanpa benar-benar meninggalkan jejak pengaruh berarti. Semua bergantung pada konsistensi, keseriusan, dan kemampuan membaca budaya konsensus ASEAN yang khas, yakni lambat, penuh kompromi, dan sering kali senyap.

Namun, setidaknya, dengan dukungan Indonesia, Turki mendapat sinyal bahwa Asia Tenggara terbuka untuk kerja sama yang lebih luas. Dan bagi Indonesia, ini adalah cara halus untuk terus menegaskan identitasnya sebagai negara yang tidak ingin memimpin dengan suara keras, tapi juga tidak bersedia diam ketika arah dunia sedang dibentuk.

Pada akhirnya, dukungan Indonesia terhadap Turki sebagai mitra wicara ASEAN bisa dibaca dan dipahami sebagai cermin dari strategi Indonesia dalam menghadapi dunia yang semakin terfragmentasi. Sebuah dunia di mana berteman dengan banyak pihak bukan tanda plin-plan, melainkan tanda kewarasan diplomatik. Sebuah dunia di mana fleksibilitas bukan kelemahan, melainkan sumber daya paling berharga.

0 Response to "Indonesia, Turki, dan masa depan diplomasi non-blok di abad ke-21"

Posting Komentar